Mendadak Rinjani
"Di sore hari di Kota Surabaya, aku ngopi bareng teman - teman sambil mengerjakan kerja freelance-ku di calibre coffe roasters. "

~3 - 5 Jam
Pagi hari (08:00 - 10:30)
Pusat Lombok / Akses Transit Utama
Awal Keberangkatan
Sore hari di Kota Surabaya, aku dan teman - teman, mengobrol banyak hal, hingga akhirnya, Ubet cerita kalau ada saudaranya yang sedang berada di Lombok.
Tepat sekali, 2 minggu adalah hari keberangkatan menuju Pulau 1000 Masjid. “Gimana kalau kita ke saudaraku aja? Supaya kita ada temen lagi di Lombok,” kata Ubet. Aku pun menyetujuinya, meski sebenarnya sudah memiliki banyak teman di Lombok. Tak apa, menambah relasi.
Malam harinya, aku mulai lah persiapan barang - barang yang akan aku bawak. Sepanjang hari, aku terus berpikir, berangkat atau tidak. Ku bertanya pada diriku sendiri, meragukan kalau aku naik Rinjani. Pasalnya Gunung Rinjani bukan main-main. Gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia. Apakah aku kuat? Dalam hati aku ndaki semeru aja kuat masak Rinjani nggak bisa, pastii bisa lah.
Keputusan terakhir terletak di restu Ibuku. Pokoknya kalau Ibu bilang tidak, aku tidak akan berangkat. Namun kalau Ibu bilang iya? Mau tidak mau, aku berangkat. Segera ku kirim WhatsApp pada Ibu. Tak ada jawaban. Ya, aku hanya mengirim pesan “Bu?” saja. Ku tanya Amel, adikku, katanya Ibu sudah tidur. Baiklah aku akan menunggu jawaban itu sampai esok pagi.
Pagi harinya, Ibu membalas pesanku, aku menceritakan tentang ajakan untuk mendaki Gunung Rinjani. Lalu Ibu menjawab, “Berangkat dong. Itu kan kesempatan. Udah, jalan sana. Satu aja pesen Ibu. Jangan lupa selalu kabari Ibu.” Fyuhhhh… Itulah Ibuku. Akhirnya aku pun mengirim pesan pada Falah, saudara Ubet yang sedang di Lombok, kalau aku akan ikut mereka ke Gunung Rinjani. Berangkat siang ini pakai kapal KM Dharma Kartika V. Falah bilang ia akan menjemputku di Pelabuhan Lembar, Lombok Barat.
Aku berangkat menuju Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Sepanjang jalan, di benakku hanya, “Aku mau ndaku Rinjani.” Sambil memikirkan apakah aku kuat untuk mendaki? Tapi aku ingat kata Claudia, kalau aku ragu lebih baik tidak usah. Masalahnya, hatiku yakin, tapi pikiranku takut kalau tidak kuat.
Kapal KM Dharma Kartika V akan berangkat pada jam 14.00 jika sesuai dengan jadwal. Namun pada jam 1 siang, penumpang belum juga diizinkan untuk masuk. Lalu pada jam 13.30, seluruh penumpang diminta memasuki kapal dengan pemeriksaan barang terlebih dahulu.
Kali ini perjalananku benar-benar seru bersama temen - teman dekatku. Aku sangat menikmati setiap detik yang dilalui. Melihat pemandangan Pulau Madura dari kejauhan, birunya laut lepas, hingga akhirnya siang berganti malam.
Esok harinya, kapal tiba di Pelabuhan Lembar pada jam 12.00 WITA. Segera ku hubungi Falah, ia akan menjemput dengan temannya. Aku pun menunggu di ruang tunggu penumpang sambil mendengarkan musik. Cukup lama Falah menjemputku, hingga akhirnya jam 13.30 Falah dan temannya, Bang Didik, tiba.
Malam hari waktunya briefing teknis pendakian yang akan dilakukan besok. Rencananya kami akan mendaki sore hari, agar tiba di Pos 2 atau Pos 3 pada waktu malam dan langsung membangun tenda, dan akan melanjutkan ke Plawangan keesokan harinya.

Tepat pada jam 14.00 WITA, kami tiba di basecamp Sembalun. Gunung Rinjani terlihat sangat gagah dari kejauhan. Siang itu kami mempersiapkan segala perbekalan, SIMAKSI, dan makan siang menuju sore dengan nasi balap khas Lombok yang tak pernah membuat lidah kami merasa bosan. Lima bungkus nasi balap, dimakan oleh tujuh orang.
Pada jam 16.00 WITA, kami siap melakukan pendakian. Dimulai dari doa bersama, dan membicarakan kembali teknis pendakian karena saat itu mereka membawa satu perempuan, yaitu aku. Jadi sebisa mungkin jalannya lebih santai agar aku tidak terlalu kelelahan.
Menjelang pukul 12 akhirnya aku dan teman - teman sampai juga di puncak. Dan ajaibnya, Tuhan berkenan membuka langit sejenak, sekitar 15 menit ditunjukkan sedikit langit biru di puncak, meski Danau Segara Anak tetap tertutup gerumbulan awan.
Cerita ini dikurasi dan diverifikasi sesuai Standar Pedoman Komunitas & Editorial PT Locallytrip Teknologi Indonesia.
Beri inspirasi ke sesama traveler! 🌍
Bagikan cerita otentik ini ke media sosial favoritmu dalam sekali klik.